pindah ke http://www.dunia-panas.blogspot.com/

|

pindah ke http://www.dunia-panas.blogspot.com/

Elang

|

Amuk Tun Teja

|

Pandora

|

Jalan Menuju Rumahmu

|

Kepada Cium

|

Para Priyayi

|

Perang

|

Tegak Lurus Dengan Langit

|

Olenka

|

3 Cinta 1 Pria

|

Tiga Cinta Ibu

|

Pengarang Telah Mati

|

Tuhan & Hal-hal yang Tak Selesai

|

Album Sajak-sajak A. Mustofa Bisri

|

Puisi-puisi Cinta Sapardi Djoko Damono

|

Hidup Matinya Sang Pengarang

|

A History of God

|

Sejarah Tuhan

|

Dunia Sophie

|

Teori Sastra dari Marxis Sampai Rasis

|

Sang Pemimpi

|

Sajak-sajak Sepatu Tua

|

Dapur Melayu Pusat Oleh-oleh Tanjung Pinang

|

Dapur Melayu

|

Alusi

|

Jurnal Lembah Biru

|

Tangan untuk Utik

|

Akar Berpilin

|

Puan Kecubung

|

Kitaran Persilangan

|

Cerita Rindu di Pagi Hari

|

/1/
Sebelum bunga-bunga peragakan warna
saya masih menafsirkan mimpi semalam
Semalam bulan kelewat indah dan
saya tak meninggalkannya meski
bayang-bayang tak ingin
bermusuhan seperti jam dan waktu
hingga pintu jejakmu
mengapa rindu-malu?

Pernah juga rindu tak sampai kepadamu.
Apa karena kau tak menginginkannya atau
kau lagi tak ingin kedatangan tamu.
Saya tak ingin rindu terlunta-lunta
meski yang di kepala
tak saya harapkan agar
kau merawatnya
seperti malam yang tak saya titipkan kepadamu.
Sekarang kau tak lagi membagi rindu;
apa karena rindumu kelewat indah hingga
saya tak kuat menanggungnya?

/2/
Pagi ini surat kabar tak lagi menyuguhkan rindu.
Hanya kematian tubuh yang lama tak mencecap rindu dan
lambat-laun tak tahan dengan keasingan tubuhnya.
Tubuh menjerit-jerit di sudut ngilu
kehidupan tak menghampiri hingga
tubuh tak henti-henti
mempertanyakan
apakah ia dalam kehidupan atau
kehidupan yang membunuhnya.

Tubuh mencari rumahmu.
Menyusuri simpang-simpang dan
kau tak perlihatkan wajah.
Mengapa kau tak menyapa meski
igauan tertuju padamu?
Bukankah kau berumah di tubuh dan
mengapa tak merasakan kehadiranmu?


/3/
Embun baru saja meninggalkan daun meski
peluk dan cium teramat singkat sebab
matahari lekas-lekas menjamah karena
kuatir debu akan mengotori bening rindunya.
Lantas rindu pun meniti hari karena tak ingin
kau terpekur melambaikan salam agar
tetap merindukan detak tetesnya.

/4/
Sebuah iklan pagi hari di televisi membuka
kembali rindu kepada tubuh.
Kenangan yang bertapa
hadir dalam kemiripan
wanita di iklan.
Rindu mencangkul kisahnya
seperti dongeng
meski kuatir
apa ia
di dalam cerita atau cerita yang menulis kisahnya.

Sebuah iklan dibuka kembali oleh tubuh.
Pagi matahari yang sama namun
sebuah kisah ditulis dalam cerita berbeda dan
kenangan pun melahirkan rindu lain hingga
pagi tak pernah lagi menulis kisah
seindah cerita sepasang pengantin yang juga
tak tuntas menafsirkan mimpi semalam.

Payakumbuh, 2008

Jalan Sudirman

|

Ingatan melihatmu menari
di bangku
pojok ingatan
kau membuang luka sampai
lalu lalang kenangan tak lagi
kenal hendak menuju ke mana.

Kau mencuri bunga
di taman yang mempertemukan
cerita
bunga-bunga menunggu kau
menjamah
sudut rindunya agar
tak menjerit dalam malam dan
siang melahirkan apa saja.

Saya tak hapal
bagaimana kau menari
merangkai bunga agar
tangismu ada menemani ketika
bertemu kisah
tak tersirat guratan
seperti malam dan
siang menjerit
risaumu sumringah.

Bagaimana caramu melafaz
agar rindu tak berdesakan
rerumput mendekap
tubuhnya
dalam getar tak tahan?
Rindu mengelabat kenang
tak membedakan tempat dan
ingatan agar kau
ditemukan di jalan sudirman.

Pojok kursi tempat kau menganyam luka
ada sepasang remaja mengungkap cinta namun
buru-buru menepisnya karena
cinta tak dibingkai dalam vigura lalu
meninggalkannya meski
derit-keriut tak pernah hilang agar
luka suatu hari ada obatnya
diganti biskuit vanilla.


Saya dibunuh oleh sepotong biskuit
di bangku itu
jalan sudirman menyelamatkan saya dari
mimpi seadanya
dituntaskan tergesa-gesa meski kadaluarsa.

Payakumbuh, 2008

Kupu-kupu (Cuplikan Cerita)

|

Episode Pertama

Kedatanganmu selalu saja
mengetuk pintu hidup.
Hinggap di jendela
dan rterbang memutari rumah.

Halaman pun tak berhenti
merindukan datangmu.
“Salam untuk kekasih
yang pulang dari negeri jauh.”
Dan kau pun menjengukku:
mengembalikan usia
yang pernah
kutumpangkan di setiap simpang.

Namun, usia itu menagih
tanggungjawabku
yang telah menelantarkannya.
“Maaf, aku tak dapat lagi
membayar waktu
yang pernah kupinjam.
Usiaku tinggal sedikit.
Dan, ah…,
mengapa aku
sampai lupa menabungnya?”

Kini kaudatang,
tak lagi sudi menjadi tamu.
Hinggap di pintu,
membawa usia
yang selalu meminta
pertanggungjawabanku.

Payakumbuh, 2006



Episode Kedua

Engkau yang bernama kupu-kupu,
mengapa bersarang di batinku?
Tetapi tak apalah…,
mungkin hatiku seperti ladang bunga.

Bunga-bunga di batinku
telah layu semua.
Ah, mengapa kau
menghisapnya serakus itu?

Engkau yang bernama kupu-kupu,
mengapa tak hadir sebagai tamu?
Meyemarakkan ladang bungaku
dan menari-nari di celah kalbu?

Engkau kupu-kupu
yang tak dapat kutangkap
meski bersarang di batinku.
Tetapi, mengapa saja
kau mengelak
untuk menjadi tamu?

Payakumbuh, 2006



Episode Ketiga


Dialah yang datang
sejak berabad-abad yang lalu.
“Jangan kaubunuh,
waktu menuliskan kisahmu
di kedua sayapnya.”
Dan si Tamu membagi-bagikan sayap
kepada waktu.
“Tidak! Di sini bukan ladang bunga.
Sebab dari lamanya usia,
kami telah terbunuh karena menunggu.
Kembalilah!
Kami tak memerlukan lagi kisah itu.”
Lalu si Tamu kembali ke pintu.
“Mungkin kau butuh kisah
dalam penerimaan itu:
tempatku nginap di batinmu,
menampung keluhmu di sayapku.
Tetapi aku tak ingin melihatmu:
menunggu kisah
yang entah
keberapa kalinya kau terbunuh.”
Si Tamu pun meninggalkan pintu,
meninggalkan waktu,
yang kelak
akan datang di hari ulang tahunmu.

Payakumbuh, 2006



Episode Keempat

Setiap kali hinggap,
aku tidak membawa duka ke pintu.
“Dunia masih diwarnai pesta
—seperti sayapku,”
dan kupu-kupu tidak berhenti
untuk dapat menjadi tamu.
“Tetapi kedatanganmu
mengubah cuaca di ladangku.
Bukankah kisah itu
menyempitkan ruang
bagi bungaku
yang sedang tumbuh?”
Maka kupu-kupu pun
tak juga menginap
di belahan kalbu.
“Bagaimana kau izinkan aku
piknik di ladangmu?”
namun kupu-kupu
tetap singgah di batin itu
dan tak pernah menjadi tamu.

Payakumbuh, 2006

Tanah

|

Dari tanahkah asal-asul saya,
yang menembus kedalaman dengan akar
dan menumbuhkan batang mengejar angin?
Tetapi, mengapa batang tidak mengenali akar?

Saya telah menyerap mineral dengan akar,
namun saya tak pernah melihat akar.
Apakah saya tak boleh mengenali sejarah?

Batang saya selalu menyimpan benih api,
tetapi api membakar batang saya.
Apakah saya harus kembali menjadi tanah?

Api dalam tubuh saya tak menyembah kepada tanah.
Sungguh, saya sangat malu jika bertemu dengan-Nya.

Payakumbuh, 2006

Naga

|

(1)
Ketika kanak, pernah kau bertanya, menduga-duga,
“Sebab apa sawah-sawah dilahap banjir?”
“Semalam naga melewati sawah-sawah. Tubuhnya yang besar
menahan air. Ketika naga pergi, air masih menggenang di sawah-sawah,”
cerita entah siapa, kau tak mengenalnya. Kau pun lalu tidur, mendengkur,
melanjutkan mimpi (sesekali guntur?) bersama naga-naga.

(2)
Ketika banjir susut, bermainlah ia ke sawah-sawah. “Hei!
Ada tai naga!” katanya. Terlihatlah sebongkah entah
menggumpal kisut, di tengah sawah.

(3)
Sewaktu gempa, orang-orang akan memukul apa saja
“Kalau tak ada kaleng batu pun jadi,” kata mereka.
Selesai gempa, bertanyalah ia kepada temannya,
“Kenapa kita harus memukul-pukul?”
“Agar naga yang tidur dalam tanah tak jadi bangun,” bilang temannya.

(Sewaktu gempa) Tingtangtingtung tingtangtingtung tingtangtingtung
“Wah, di atas ada manusia kiranya,” kata naga.
Naga kembali pada tidurnya.

(4)
Mungkin Bukit Barisan itu seekor naga yang tertidur
Karena kekenyangan, ia tertidur lebih lama dari seharusnya
Maka bertumbuhanlah lumut-lumut, rumput-rumput, pohon
pohon besar. Daun-daunnya yang berguguran—menjadi tanah
menumbuhkan pohon-pohon lain.
Di rangkaian Bukit Barisan menyembul gunung-gunung
Gunung itu mungkin kepalanya, perutnya, atau ekornya
Bila ada asap dari kawah gunung, mungkin naga itu sedang kuap;
bila lahar—naga itu sedang muntah. Bila naga muntah,
tanahmu akan bergetar. Pukul sajalah apa pun
Naga sangat menyukai bunyian
Semoga bunyi-bunyian darimu membuat naga kembali lelap.


(5)
Dulu, gambar naga diukir di pintu rumah, dan ular-ular
tak lagi berani memasuki rumah. Kenapa ya? Mungkin gambar
naga di pintu rumah dianggap sungguhan oleh ular-ular itu.


Payakumbuh, 30 Maret 2006

Aneka Cerita Ayam

|

1. Ayam Kampung

Ayam itu sangat gembira karena asalnya
Sebab dia terlahir dari keturunan kampung
Ayam itu berkelamin jantan. Ayam jantan kampung
Boleh keluyuran ke mana-mana

Ayam kampung itu telah besar
Sudah pandai me-lee boy*. Kawin sana
kawin sini. “Melangsungkan keturunan,” katanya

Ayam kampung jantan itu benar-benar beruntung
Dia berbahagia sekali


2. Ayam Bangkok

Ayam bangkok jantan tidak suka keliaran
Me-lee boy juga kurang. Dia sangat suka bertarung
Kalau tidak ada lawan lebih ingin berkurung

Ayam bangkok jantan itu sangat jago
Bertarung merupakan bukti kejantanan
Makannya tidak sembarang. Badannya kekar
dan tak ada lawan


3. Ayam Hutan

Kalau ayam hutan hidup di hutan
Sejak pisah dari induknya
dia bertambah liar. Induknya juga liar
Apalagi bapaknya

Pemburu sangat suka berburu ayam hutan
Mungkin karena liar, entahlah
Mendapatkan ayam hutan sama
bagai mengalahkan Tarzan


4. Ayam Ras

Ada juga ayam yang digemari layaknya selebritis
Ayam itu sangat suka hidup di kota
Mungkin rasnya yang bagus jadi incaran pengusaha
Meski ayam itu tinggal di kota
namun sangat senang dikurung
Dikotak-kotakkan kandangnya
Diberi makan sepuasnya
Minumnya juga tersedia

Sungguh pun bukan ayam-ayam kita
Membuat senang hati melihatnya
Mungkin karena rajin bertelur
Telurnya berjejer di depan mata


5. Ayam Kate (1)

Ayam kate sangat lucu dan ng-gemesin
Tubuhnya pendek-pendek, bulu(kulit)nya putih-putih
Matanya sayu-sayu, pipinya bersemu merah
Bukan Kate Winslet** loh

Sejak ayam kate memasuki kampung
Ayam kampung jantan sangat terancam hak-haknya

Mulai saat itu ayam-ayam jantan kampung
menyatakan perang dengan ayam kate
Peperangan dimenangi ayam-ayam kampung
Maka terusirlah ayam kate dari kampung itu


6. Ayam Kate (2)

Ayam kate sangat terhina dengan kekalahannya
Maka dicanangkan oleh pemimpin negeri itu
untuk pengunggulan pembibitan
“Kemajuan dunia dapat kita raih, asalkan
keturunan kita mengalahkan bobot bangsa
ayam lainnya,” kata pemimpin ayam kate

Konon, ayam kate lebih tinggi dari ayam lainnya
Kemajuannya pesat pula
Dan menguasai bangsa ayam lainnya


Payakumbuh, 1 April 2006

*Judul lagu Jamrud.
**Aktris film Titanic.

Laba-laba

|

Tubuh saya hanya satu.
Tetapi, mengapa dikatakan dua keuntungan?
Apa karena saya loba?
Padahal saya hanya punya satu tubuh.

Meski tubuh saya satu,
saya selalu mencari keuntungan lebih dari satu.
Apa karena itu, orang menyebut saya menambah nama lagi satu?

Tubuh saya satu, mengapa dikatakan punya untung lebih dari satu?
Padahal saya memang loba.
Tetapi, di mana keuntungan saya?
Apa karena saya yang loba lalu mendapat keuntungan?
Saya hanya punya satu tubuh,
tetapi tubuh saya mengeluarkan tinja.
Apakah karena ini,
orang mengatakan saya punya dua keuntungan?
Padahal tinja ini memang untuk menjaring keuntungan.
Bukankah ini wajar?

Tubuh saya hanya satu
dan dikatakan untung lebih dari satu.
Kenapa begitu?
Apa karena saya loba?
Padahal itulah diri saya.
Apakah dilarang seperti itu?


Payakumbuh, 1 Juni 2006

Bola

|

Saya selalu dicipta bulat.
Tetapi, apakah bulat harus selalu saya?
Bulat saya juga sama dengan mereka.
Namun, mengapa mereka tidak menjadi saya?

Saya dan mereka sama-sama bulatnya.
Tetapi, mengapa kami berbeda juga?
Apa mereka tidak mau menjadi saya karena takut disepak?
Padahal itulah nasib menjadi saya.

Anggota dewan telah membulatkan kata dalam mufakatnya,
namun kata itu tidak pernah menjadi saya.
Tetapi, mengapa disepak-sepak seperti saya?
Apa karena dibuat dalam mufakat?

Saya dicipta bulat memang untuk disepak,
namun kata yang bulat itu juga disepak-sepak?
Padahal kata itu tidak pernah menjadi saya.
Apakah kata yang dibulat-bulatkan itu
memang harus disepak-sepak seperti saya?
tetapi, dia bukan saya.

Di pasar, orang memperjual-belikan saya;
pun di kantor dewan, anggota dewan membulat-bulatkan kata.
Apa kata juga bisa diperjual-belikan seperti saya?
Padahal kata tidak pernah menjadi saya.


Payakumbuh, 1 Juni 2006

Celana Itu Dipakai Juli ( Episode Kelima)

|

Romi dan Juli sangat berbahagia dengan memiliki celana; Joko dan perempuan yang bersamanya juga bahagia meski kehilangan celana. Mereka pasangan cinta sejati. Kalau Romi memakai celana, Juli pun memakai bikini; toh, kalau Joko kehilangan celana, perempuan yang bersamanya sangat mengerti sekali. Mereka pun tidak lupa berteloransi untuk mengurus burung yang di dalam celana: Mengembangbiakkannya—untuk menetaskan burung-burung yang baru.

Kini Joko telah menjadi pengusaha burung bersama perempuannya; dan Romi menggeluti perancang celana bersama Juli. Dan di saat ini, pada sebuah negeri, model celana telah berkiblat kepada model celana Juli.

paykumbuh, 2006

Celana Itu Dipakai Juli ( Episode Keempat)

|

Juli dan perempuan yang bersama Joko itu berhasil juga akan misinya. Dimana emansipasi diawali dengan bertukarnya pemakai celana. Mereka tak lagi terus-terusan memakai bikini, sebab celana telah menyatakan persamaan jender. Dan atas jasa keduanya, kini pemakai celana tak lagi dibedakan lagi antara lelaki dan wanita. Kami yang sebagai pengagum celana, ingin mengucapkan terima kasih kepada mereka atas usahanya.

Payakumbuh, 2006

Celana Itu Dipakai Juli ( Episode Ketiga)

|

Perempuan yang bersama Joko itu, tidak senang hati melihat celana Joko yang hilang itu telah dimiliki Juli. Ia mempengaruhi Joko untuk menggugat celananya yang hilang itu. Tetapi Joko tidak ambil pusing. Toh, celana itu bukan miliknya lagi. Bukankah ia telah membuangnya?

Meski celana Joko telah didapatkan Romi, namun ia tidak dapat lagi menggugatnya. Perempuan yang bersama Joko itu pun sewot. “Lah, kok celananya dibiarkan saja, Mas? Apa sampean tidak merasa kehilangan? Padahal itu celana kesayangan, bukan? kata perempuan itu.
“Loh, kan sampean sendiri yang suruh buang. Untung ada yang mau ngambil, kalau ndak, bagaimana nasib celananya, coba?”
“Ia, saya kan suruh buang celana sampean karena burung yang di dalam celana itu sudah kabur entah ke mana. Masa celana begitu dibela-belain sampai burungnya tak diketahui lagi minggat .”
“Kalau burungnya minggat, nanti pulangnya kan juga ke dalam celana.”
“Loh, kok sampean mau menuruti kata-kata saya.”
“Saya kan cinta sampean. Apa salahnya membuang celana demi pengorbanan cinta. Toh, celana dapat dicari lagi, bukan?”
“Ia, membuang celana sih boleh-boleh saja, tapi mikir-mikir dulu dong! Itu kan celana termodis dan lagi trendy.”
“Tetapi celana itu bukan milik saya lagi. Tak apa, kan, kalau sampean mau menerima cinta saya meski tak ada lagi celana. Toh, cinta tidak akan pernah diukur dengan celana. Apa sampean lebih mencintai celana daripada saya?”
“Maksud saya bukan begitu loh, Mas. Saya kan tidak mau ngasih bencana kepada Mas.”
“Jadi, apa toh?”
“Begini loh, Mas. Seketika Bapa Adam memetik buah kuldi pohon untuk Bunda Hawa, mereka dihukum dengan kehilangan celana. Apakah saya penyebab hilangnya celana sampean? Tapi saya benar-benar minta maaf lho, Mas. Makanya saya ingin menggugat celana Mas yang hilang itu.”
“Celananya enggak usah digugat-gugat. Sampean kan cinta saya, apa salahnya kehilangan celana untuk mendapatkan cinta sampean”
“Nanti kalau Tuhan mengusir kita, bagaimana?”
“Tuhan kan mahapenyayang kepada ciptaan-Nya. Buktinya, kita masih pakai celana, bukan?”
“Jadi, orang-orang yang enggak pakai celana itu tidak disayang sama Tuhan ya, Mas”
“Mungkin saja kegemaran mereka memetik buah kuldi; jadi, keasyikan terus enggak pakai celana.”
“Ah, Mas bisa saja. Saya makin naksir jadinya.”

Mereka pun bahagia dan melanjutkan kencannya di kuburan. Sebab, tak ada yang lebih romantis untuk bercinta selain di kuburan. Tempat yang sepi, hening, dapat menyatukan pikiran, hati, jiwa kepada penghuni segala semesta.

Payakumbuh, 2006

Celana Itu Dipakai Juli ( Episode Kedua)

|

Keinginan Juli terpenuhi juga akhirnya, sebab Romi telah menyatakan wasiat untuk mewariskan celananya kepada Juli. Romi tidak ingin terjadi bencana karena celana itu. Tahu kan…, kalau celana itu sangat berharga? Sebab, celana itu paling modis dan sangat trendy.

Juli tak sabar lagi untuk menghadiri pesta. Dimana gengsi dan reputasi sangat ditentukan oleh celana. Juli tidak ingin lagi kalau ia tidak menjadi pusat perhatian di pesta nanti. Dan hal yang pasti, celana itu akan menaikkan reputasi.

Romi sudah mengantarkan Juli ke pesta itu, dan berbagai merk celana pun telah menghiasi acara pesta. Tetapi belum ada yang mengalahkan reputasi celana Juli. Dan ia pun semakin mencintai Romi.
Reputasi celana Juli semakin menggemparkan dari hari ke hari. Ada yang mengagumi, pun ada yang risih karena iri. Bahkan ada juga yang merayu Juli untuk sekedar mendapatkan celana miliknya itu.

Di rumah pun, Juli tak pernah berhenti kedatangan tamu. Ada yang ingin sekedar berfoto dekat celana, ada juga yang mencuri kesempatan untuk merampasnya. Tetapi Romi sangat mengetahui akan itu, atas inisiatifnya pula, Romi membuatkan etalase khusus untuk celana itu. Dimana alrm dan sekompi pengawal sewaan telah siap untuk mengamankan celana miliknya Juli.

Ketika berpergian ke luar rumah, keamanan Juli pun jadi terancam karena memakai celana itu. Pencuri bayaran selalu saja mengintainya ke mana pun. Kadang sembunyi-sembunyi di semak-semak, ngintip-ngintip, sampai terinjak ular derik. Bahkan ada juga yang menyamar dengan berbagai gaya: Pura-pura jadi pengemis, lalu ketahuan juga ketika terpesona oleh celana.
“Pura-pura jadi pengemis ya, Mas?” tanya Juli.
“Ah, enggak kok.”
“Loh, kok memelototi celana saya?”
“Kagum aja gitu.”
“Mas salah seorang pengagum celana saya, ya? Nah, ayo ngaku!”
“Maaf ya, Mbak. Sebenarnya…, ya, gitu. Mulanya mau nyuri, tapi tak sanggup aja lagi.”
“Lah, sekarang sudah lihat, kan? Bagaimana, apa mau nyuri?”
“Enggak jadi loh, Mbak. Tapi foto bareng sama celananya, boleh enggak?”
“Lah, enggak apa-apa. Sampean kan penggemar celana saya.”
Mereka pun foto bersama dengan segala aksi dan gaya. “Makasih ya, Mbak. Saya bahagia meski gagal mencuri celana,” kata pengemis palsu itu yang batal mencuri celananya.
Hari ke hari, celana Juli semakin menanjak popularitasnya. Dan konon kabarnya, “Milan dan Paris pun menjadikan celana Juli sebagai kiblat untuk model celana di musim semi ini.”
Tidak ada lebih diharapkan oleh pengagum celana selain mengangankan celana Juli. Dan itu pun bukan impian satu dua orang, tetapi sudah menjadi kerinduan setiap penggemar celana. Bahkan koran-koran terbitan pagi ini, semuanya mengupas akan kekaguman model celana itu.
Pernah pada suatu berita gosip pagi, seorang perancang mode kelas satu pun mengakui bahwa ia tidak akan mampu mencipta dan meniru model celana yang mutakhir itu. Bahkan salah seorang pelukis realis pun ketika diminta untuk melukis celana Juli, ia tidak berani mengambil resiko untuk kesempurnaan karyanya, sebab itu celana termodis, nyaman, lagi trendy.

Penggemar celana Juli telah membentuk fansclub bagi sesama pecinta celana. Dan seorang fotografer kelas kakap pun masih sangsi memastikan posisi yang pas untuk memotret celana. Jika tidak tepat sasaran, hasilnya tak akan puas—bisa-bisa penggemar celana Juli akan memprotes nanti. Terjadi huru-hara, itu kan hal yang tidak diinginkan.

Gambar celana Juli telah diperbanyak dengan berbagai aneka: Ada untuk kartu pos, perangko-perangko, dan berbagai poster lainnya.


Payakumbuh, 2006

Celana Itu Dipakai Juli ( Episode Pertama)

|

Kami ingin mengatakannya kepada Joko, bahwa “Jangan mencari celana itu lagi”; Romi telah mendapatkannya. Tolong ya…, katakan pada Joko: “Tanya saja sama Romi”.

Meski celana itu tidak ada lagi dan kami tahu celana itu sangat berarti bagi Joko, namun kami ikut sedih. Padahal untuk mendapatkannya—ia harus berkeliling kota dan masuk ke setiap toko busana.1) Celana itu benar-benar asli buatan Amerika dan yang paling pas dan pantas buat nampang di kuburan.1)
Jika bertemu Joko, ingin sekali kami menasihatinya untuk tidak lagi mencari celana itu, juga tidak mencari kubur ibunya hanya untuk menanyakan, “Ibu, kausimpan di mana celana lucu yang kupakai waktu bayi dulu.”1)

Joko sangat menyukai yang menyangkut celana. Kegemarannya itu sudah tertanam sejak kanak, dan ketika sekolah ia sering disuruh menggambar celana yang bagus dan sopan, tapi tak pernah diajar melukis seluk-beluk yang di dalam celana.2) Sehingga ia tumbuh menjadi anak-anak manis yang penakut dan penurut, bahkan terhadap nasibnya sendiri.2)

Ketika keinginannya tidak dapat lagi dihentikan untuk menggambar yang di dalam celana, maka ia suka usil dan sembunyi-sembunyi membuat coretan dan gambar porno di tembok kamar mandi,2) sehinggan ia pun terbiasa menjadi orang-orang yang suka cabul terhadap diri sendiri.2)

Kenangan yang tak terlupa bagi Joko tentang celana itu adalah ketika ia pergi menemui kekasih yang menunggunya di pojok kuburan,3) dan saat itulah ia pamerkan celananya pada kekasih, “Ini asli buatan Amerika,”3) katanya. Tapi perempuan itu lebih tertarik pada yang bertengger di dalam celana. Ia sewot juga. “Buka dan buang celanamu!”3) suruh kekasih. Dilihatnya burung yang bertengger di dalam celana telah kabur entah ke mana.

Kami katakan lagi, “Celana itu sangat berarti bagi Joko,” dan konon kabarnya setelah berlayar mengelilingi bumi, Colombus pun akhirnya menemukan sebuah benua baru di dalam celana2) itu, dan kami lihat Stephen Hawking khusuk bertapa di sana.2)
Jika bertemu Joko—ingin sekali kami kami katakan—bahwa celana itu didapatkan oleh Romi. Romi menemukannya ketika ia pergi mandi. Sewaktu acara mandi berlangsung, ketika itulah Juli melepas bikininya, lalu diganti celana miliknya Romi.

Romi tidak keberatan jika celana itu dipakai oleh Juli. Meskipun itu haknya, namun kami ikut sedih jika Joko belum mengetahuinya sama sekali. Dan kami tidak dapat menggugat keputusan itu.
Semenjak Juli memakai celana Romi, kami merasa curiga kepada perempuan yang bersama Joko itu yang menyuruhnya membuang celananya. Dan suatu hal yang pasti: celana itu, mengapa dapat hilang? Tetapi untunglah Romi menemukannya. Padahal itu celana terbaik, sayang kan jika hilang. Namun kecurigaan kami semakin tumbuh sebab celana itu, mengapa dipakai oleh Juli? Apakah Juli dan perempuan yang bersama Joko itu telah bekerja sama? Tetapi, kami tidak ingin berburuk sangka sejauh itu.

Payakumbuh, 12 Mei 2006

1. larik puisi Joko Pinurbo (Celana)
2. larik puisi Joko Pinurbo (Celana 2)
3. larik puisi Joko Pinurbo (Celana 3)

Ibu

|

Suami saya sudah lama tidak pulang.
Anak-anak tambah bandel.
Apa suami saya pergi selingkuh?

Saya—pratiwi—yang memangku anak-anak.
Anak-anak saya bertengkar,
mana bapaknya tidak ada;
biar ditempeleng sekalian.

Jika si Bungsu saya pangku,
eh si Sulung ikutan ngambek.
Saya kira ia mandiri,
namun katanya, “Jangan diskriminasi dong!”

Mengurus rumah jadi susah jika tak ada suami.
Apa kewenangan saya hanya mengurus rumah?
Padahal rumah akan bertumpah darah kalau suami pergi.
Bagaimana mungkin saya melerai anak-anak,
anak-anak terlalu nakal sejak ditinggal bapaknya.

Saya—pratiwi—diberi kuasa menguasai bumi.
Suami saya: Langit.
Namun hanya melihat anak-anak bertikai di bentangan tinggi.
Apa suami saya tidak bertanggungjawab lagi?

Sejak saya dan suami pisah,
saya kerepotan atas kewenangan ini.
Anak-anak suka bertengkar,
padahal hanya beda perlakuan.

Payakumbuh, 12 Juni 2006

Hati

|

Bentuk saya selalu digambarkan dengan buah jambu.
Kenapa harus buah jambu?
Apa saya terbuat dari buah jambu
atau serasa buah jambu?

Buah jambu acap digambarkan sebagai cinta.
Mengapa cinta digambarkan buah jambu?
Apa cinta terbuat juga dari buah jambu
atau serasa buah jambu?
Tetapi, apa hubungannya cinta dengan saya?
Apakah cinta berasal dari saya?
Lalu seperti apakah saya?
Apa karena sama-sama bergambar buah jambu?

Pekerjaan saya menghasilkan empedu.
Apa cinta juga bekerja seperti saya?
Padahal kami sama-sama bergambar buah jambu.
Apakah buah jambu serasa empedu?
Kenapa kami digambar dari buah jambu?

Jika diri saya digandakan
selalu dinyatakan untuk waspada.
Apa karena saya tidak lagi bergambar buah jambu?
Tetapi, apakah cinta juga dapat digandakan seperti saya?
Namun kami akan kehilangan diri bergambar buah jambu.
Apakah gambar buah jambu itu perlu?

Monyet sangat menyukai buah jambu,
padahal kami juga bergambar buah jambu.
Apakah monyet juga menyukai kami?
Tetapi untuk apakah kami bagi monyet?
Apa hanya terpikat semata-mata oleh gambar buah jambu?
Mengapa harus begitu?

Tubuh acap mengikuti bisikan saya,
apakah saya ada karena berbisik?
Tetapi, apa hubungannya bisikan saya dengan cinta?
Apakah cinta berasal dari bisikan saya?
Namun, di mana tubuh dapat mendengar bisikan saya?
Apakah saya punya mulut untuk berbisik?
Saya terlalu suka membisiki tubuh,
mengapa tubuh menuruti bisikan saya?
Apakah saya terlalu bijaksana?
Padahal saya hanya menghasilkan empedu
dan bergambar buah jambu.
Apakah tubuh menyukai buah jambu dan empedu?
Namun, monyet hanya menyukai buah jambu.
Apakah tubuh berteman dengan monyet?
Kenapa tidak menyukai empedu?
Padahal cinta juga bergambar buah jambu.
Apakah monyet dan tubuh hanya menyukai cinta?
Tetapi, mengapa tubuh selalu mengikuti bisikan saya?
Padahal saya menghasilkan empedu.

Saya juga dikatakan nurani,
mengapa saya dikatakan begitu oleh tubuh?
Apakah tubuh selalu gelap?
Tetapi, di mana tubuh menemukan saya?
Padahal dugaan selama ini,
saya terletak yang paling dalam.
Apakah tubuh mengetahui di mana saya
karena saya acap berbisik?
Padahal saya sangat terang-benderang,
tetapi pernahkah tubuh melihat saya?
Padahal saya terletak yang paling dalam.
Tetapi mengapa tubuh menggambar saya seperti buah jambu?
Apakah itu hanya dugaan tubuh saja?
Padahal tubuh belum pernah melihat saya.
Mengapa tubuh begitu berani menggambar saya seperti buah jambu?
Apa karena saya dihubungkan dengan cinta?
Tetapi, tubuh terlalu berani membuat dugaan tentang bentuk saya.
Bukankah itu tidak bertanggungjawab
dan menyesatkan semua tubuh,
atau hanya upaya mengembangkan pengetahuan oleh tubuh?
Lalu, kenapa tubuh dapat mendengar bisikan saya?
Padahal saya terletak jauh dan dalam.
Apakah tubuh mempunyai satelit
untuk mengintai dan merekam saya?
Tetapi, tubuh belum dapat mengatakan seperti apa:
bentuk dan di mana letak saya?
Tubuh mengatakan saya acap tersakiti.
Apakah tubuh mengetahui keberadaan saya
hingga mampu menyakiti saya?
Padahal selama ini, tubuh belum mengetahui letak saya.
Bukankah itu hanya dugaan belaka?
Tetapi, saya memang acap tersakiti.
Namun, bagaimana tubuh dapat menyakiti saya?
Padahal tubuh belum mengetahui di mana saya.

Meski saya dapat tersakiti, tetapi saya dapat juga terjatuh.
Apakah letak saya selama ini selalu digantung?
Namun, mengapa saya dapat jatuh?
Apa karena saya sudah busuk
hingga jatuh dari tampuknya seperti buah jambu?
Padahal saya memang bergambar buah jambu.
Apa betul saya terbuat dari buah jambu?

Buah jambu dan saya dapat jatuh.
Apa saya jatuh karena busuk seperti buah jambu?
Padahal kejatuhan saya kegembiraan bagi tubuh.
Apa tubuh menginginkan saya jatuh?
Padahal buah jambu jatuh dikarenakan busuk.
Apa jatuh saya ada ulatnya jika busuk?
Padahal buah jambu selalu ada ulatnya jika busuk.
Apa mungkin kebusukan saya ada ulatnya jika jatuh?
Padahal kejatuhan saya selalu ditunggu-tunggu oleh tubuh.
Tetapi, tidakkah hancur jika jatuh?
Padahal kehancuran saya tidak diharapkan bagi tubuh.


Payakumbuh, 3 Juni 2006

Mata

|

Sudah lama saya kesal kepada tubuh,
sebab tubuh menggunakan saya sebagai keranjang.
Mengapa hanya saya yang dijadikan keranjang?
Apa karena saya digunakan untuk melihat?
Padahal tubuh menggunakan saya untuk melihat yang mesum.
Apa setiap tubuh begitu?
Tetapi itu haknya, dan saya tidak dapat menolak keinginan tubuh.
Mengapa saya tidak dapat menolaknya?
Padahal saya juga berada di hatinya.
Apa saya tidak dapat menggugah hati tubuh lagi?
Tetapi gugahan saya membuat tubuh menangis.
Bukankah tangisan tubuh membuat saya berair?
Mengapa tangisan tubuh membuat saya berair?
Apa karena saya juga bagian dari tubuh?
Tetapi tubuh menggunakan saya sebagai keranjang.
Bukankah keranjang untuk memuat barang?
Namun, muatannya selalu pandangan mesum.
Apakah tubuh menyukai perbuatan yang tidak senonoh?
Tetapi, mengapa harus menggunakan saya?
Apa karena hanya saya yang membuatnya melihat?
Tetapi tubuh lain telah terlanjur menyalahkan saya.
“Idiiih, mata keranjang,” katanya.


Saya tidak ingin berburuk sangka lagi kepada tubuh.
Toh, ia menggandakan saya untuk namanya.
Mengapa tubuh ingin menjadi saya?
Apa karena saya penurut, dan tubuh juga ingin seperti saya?
Padahal saya digunakan untuk melihat oleh tubuh.
Apakah tubuh yang mejadi saya juga berbuat seperti saya?
Padahal saya dikendalikan oleh tubuh,
apakah tubuh yang menjadi saya juga dikendalikan oleh tubuh lain?
Mengapa tubuh mengendalikan tubuh?
Apakah tubuh yang dikendalikan itu juga dijadikan keranjang seperti saya?
Padahal tubuh yang dikendalikan itu juga menjadikan saya sebagai keranjang.
Mengapa keranjang menjadikan saya sebagai keranjang?
Apa karena keranjang itu ingin melampiaskan sakit hatinya ?
Tetapi saya tidak ingin berburuk sangka lagi.
Atau, mungkin tubuh yang dijadikan keranjang itu ingin memuat berita melalui saya?
Apa keranjang yang menjadikan saya dikendalikan untuk mencari berita,
dan saya digunakan untuk melihat berita?
Padahal tubuh yang menjadi keranjang itu selalu menyamar dalam mencari berita.
Apakah saya dan tubuh yang menjadi keranjang itu telah menipu?
Tetapi menipu itu tidak baik.
Apakah kami telah berdosa?
Tetapi perbuatan kami karena dikendalikan oleh tubuh lain.
Bukankah tubuh yang mengendalikan kami itu juga berdosa?
Padahal perbuatan kami akan berakibat gawat jika diketahui musuh.
“Hei, kamu mata-mata ya?” tanya musuh, kan dapat mengancam nyawa.
Apakah kami boleh mencari pilihan lain?

Payakumbuh, 28 Juni 2006

Selimut

|

Tubuh acap membutuhkan saya ketika tidur,
mengapa tubuh memerlukan saya?
Apa tubuh kedinginan?
Padahal musuh juga bersembunyi di dalam saya.
Kenapa musuh bersembunyi di dalam saya?
Apa musuh juga kedinginan,
atau mengantuk?
Tetapi, apakah benar musuh seorang pengantuk?
Atau musuh pura-pura mengantuk
supaya dapat bersembunyi di dalam saya?
Mengapa musuh suka sembunyi di dalam saya?
Apa karena tidak ingin kelihatan oleh tubuh?
Mengapa musuh acap sembunyi
dari tubuh di dalam saya?
Apa musuh ingin mencurangi tubuh?

Saya merasa bersalah
karena membiarkan musuh bersembunyi di dalam saya.
Bukankah ia akan mencelakai tubuh?
Mengapa tubuh tidak mengetahuinya?
Apa karena musuh acap sembunyi?
Padahal tubuh dan musuh sama-sama tidur di dalam saya.
Mengapa tubuh belum mengetahuinya juga?
Apa tubuh sangat mengantuk,
hingga tidak mengetahui musuh di dalam saya?
Tetapi bagaimanapun, saya ikut bersalah kepada tubuh.
Bagaimana cara saya menyatakan ada musuh kepada tubuh?

Payakumbuh, 30 Juni 2006

Departemen Penerangan

|

Jika saya memberi penerangan,
apakah saya seperti bola lampu?
Padahal bola lampu untuk menerangi kegelapan.
Apakah departemen lain acap kegelapan?
Mengapa tidak pakai bola lampu?
Padahal saya dan bola lampu digunakan untuk penerangan.
Apakah kehadiran saya memang dibutuhkan
walau telah ada bola lampu?
Mengapa tidak pakai bola lampu?

Bola lampu acap digambarkan
dengan tubuh yang mendapat gagasan,
apakah bola lampu lambang kecerdasan?
Mengapa saya dihilangkan?
Bukankah saya dan bola lampu untuk penerangan?
Tetapi, apakah departeman lain tidak kegelapan?
Atau kehadiran saya telah diganti dengan bola lampu?

Payakumbuh, 11 Juli 2006

Ideologi

|

Tubuh menggunakan saya
untuk mengatur hidup orang banyak.
Mengapa saya mengikuti pikiran tubuh?
Apa karena saya diciptakan oleh tubuh
maka ia sesukanya menyuruh saya?
Padahal saya belum tentu benar diciptakan oleh tubuh.
Apa saya tidak menyesatkan banyak orang?
Padahal ini bukanlah keinginan saya.

Saya diciptakan oleh tubuh,
apa saya boleh membantah kepada tubuh?
Padahal kan ia tuhan saya.
Apa saya tidak dianggap kafir jika membantah?
Tetapi tuhan saya juga diberi petunjuk oleh Tuhannya.
Mengapa ia menanamkan saya pada sesamanya?
Bukankah tuhan saya telah ingkar kepada Tuhan?
Mengapa saya juga tidak boleh membantah kepada tuhan saya?

Saya kan diciptakan oleh satu tubuh,
mengapa tubuh lain mengikuti saya yang diciptakan oleh satu tubuh?
Apakah tubuh yang menciptakan saya
juga ingin menjadi tuhan pada sesamanya?
Padahal tuhan saya juga diciptakan oleh Tuhan.
Apa ia tidak percaya Tuhan?
Jika benar—boleh juga dong—
saya tidak percaya kepada tuhan saya.
Apa tuhan saya lebih paham dari Tuhan
dalam mengatur hidup orang banyak?
Atau hanya mencari kebanggaan saja terhadap sesamanya?
Tetapi, mengapa antara perkumpulan tubuh saling bertikai
dalam mengagung-agungkan saya dan sejenis saya?
Bukankah saya dan sejenis hanya diciptakan oleh satu tubuh?

Payakumbuh, 16 Juni 2006

Puisi (1)

|

Saya akan mati-matian diciptakan
tapi kelahiran saya akan membuat kematian tuhan.
Mengapa tuhan yang menciptakan saya harus mati?

Tuhan yang menciptakan saya
juga diciptakan oleh Tuhan.
Apakah tuhan saya telah melanggar kodrat Tuhan?
Apa mungkin ada dua tuhan?
Itukah sebabnya tuhan saya harus mati?


Payakumbuh, 28 Mei 2006

Puisi (2)

|

Saya selalu hadir dalam “saya”.
Apa kau ragu akan saya?
Kembalilah pada judul saya.
Itulah saya yang berkata.


Payakumbuh, 1 Juni 2

Puisi (3)

|

Saya lahir sebab kata;
kata menggali kedalaman kata,
kata bermain di dalam kata.
Karena kata sebagai kata,
itukah sebabnya kata berkata-kata?

Kata mempertanyakan kata di dalam saya;
kata ingin mengenal kata,
dan kata akan bermain ketika ditanya.
Bukankah ini penyebab lahirnya saya?

Payakumbuh, 14 Juni 2006

Rapat

|

Saya tidak renggang,
tetapi anggota sidang berkumpul membentuk saya.
Apa karena saya tidak mempunyai celah
maka anggota sidang berbicara di dalam saya?

Payakumbuh, 13 Juni 2006

Apel

|

Buah saya yang bundar
mengapa wajib hadir?
Apa karena saya kepala kampung?
Padahal kan banyak berbentuk bundar,
mungkin boleh juga jadi kepala kampung.
Padahal saya lebih suka naik banding.
Apa nanti tidak merepotkan warga kampung?
“Hei, kepala kampung naik banding!” tangis warga kampung.

Buah saya yang bundar dan berdaging tebal,
apa karena itu ditunjuk jadi kepala kampung?
Kalau mengandung air dan berkulit lunak, itu memang saya.
Atau karena rasa saya yang manis
dan keasam-asaman
membuat warga kampung menginginkan kehadiran saya?
Tetapi saya sedang naik banding.
Apa kehadiran saya sangat dibutuhkan?
Tetapi maaf, keputusan pengadilan tingkat pertama sangat mengecewakan.
Saya naik banding dulu!
Kapan-kapan saya hadir menyampaikan amanat.
Apa masih boleh saya jadi kepala kampung?

Payakumbuh, 13 Juni 2006

Pacar

|

Daun saya acap dicari wanita.
Apakah saya seorang lelaki?
Meski sekedar pemerah kuku,
tetapi saya acap dicari-cari.
Apakah wanita jatuh cinta kepada saya?

Mungkin saya diibaratkan lelaki oleh wanita
—lelaki yang disayanginya—
lalu menempelkan saya pada kukunya.

Hubungan saya dengan wanita
seperti cintanya pada lelakinya.
Apa benar saya seorang lelaki?

Payakumbuh, 12 Juni 2006

Pemberontak yang Sok Tahu dan Pengekor

|

Bila Budi Darma menulis dalam esainya (Pemberontak dan Pandai Mendadak) tentang apa yang harus dilakukan seorang pemberontak, maka saya pun mengekorinya tentang hal yang sama.

Saya mengetahui bahwa Anda telah membacanya, namun saya akan berpura-pura tidak tahu. Jika memang Anda belum tahu, syukurlah, saya akan lebih mudah menjadi orang yang sok tahu di depan Anda. Dan jati diri saya yang sebagai pengekor tidak akan Anda ketahui, bukan?

Hal yang paling enak di dunia ini adalah menjadi pemberontak. Anda tidak perlu memikirkan kalah atau menang, tetapi dengan memberontak, Anda akan lebih mudah mendapat pengikut.

Sebagai pemberontak, Anda tidak perlu memberontaki hal-hal yang berat. Cukup dengan mengecam generasi yang sudah mapan saja. Katakan bahwa karya-karya generasi pengarang mapan sudah tidak sesuai lagi dengan zaman. Jika perlu, cari kelemahan karya-karyanya. Jangan lupa pakai teori kontemporer, kutip kata si Anu dan pakai kosakata bahasa asing untuk memperlihatkan bahwa Anda seorang terpelajar.
Jika hal itu belum cukup, Anda perlu menambahi tentang suasana sastra kita yang sedang lagi bobrok. Tulis tentang kesasteraan kita ini lagi musimnya konco-sistim, fanatik kedaerahan, dan terlalu homogennya selera redaktur dalam menyeleksi karya. Padahal karya Anda tidak memenuhi kwalitas sebenarnya.

Menjadi pemberontak itu memang enak, sebab Anda lebih leluasa mengutarakan konsep-konsep Anda berkarya. Tak perlu memikirkan dan mencari konsep-konsep yang rumit, namun carilah konsep yang selama ini akan berlawanan dengan logika. Karena itu akan lebih didengar, dan dicatat sebagai penemu dalam sejarah kesasteraan kita.
Jangan takut dengan konsep Anda yang berlawanan dengan logika itu, karena itu akan terlihat absurd. Seorang pengarang absurd akan lebih dihormati, walaupaun sesungguhnya Anda lagi sedang menutupi tidak pandai berbahasa.

Anda tidak perlu berkecil hati jika dalam berkarya tidak pandai berbahasa. Sebaiknya Anda memilih menulis puisi. Sebab puisi telah dibebaskan untuk pengarangnya. Jangan ikuti EYD, sebab itu akan memperlihatkan kelemahan Anda.

Dalam menulis puisi Anda tidak perlu takut jika ditanya: "Bagaimana puisi Anda sebenarnya?" Sapardi sudah memberi tameng, dan Anda harus memanfaatkannya.
Bila lawan diskusi Anda ingin menakar pemahaman Anda tentang puisi, katakan saja kalau "Pengarang telah mati". Sebab itu adalah senjata yang berguna dan jangan disia-siakan.

Istilah "Pengarang Telah Mati" itu dapat juga Anda manfaatkan di dalam proses berkarya. Sebab karya sastera itu sendiri akan selalu dinilai fiksi.
Gunakan pacar Anda dan tulislah puisi itu seolah-olah untuknya. Tetapi sekali lagi jangan gunakan EYD. Sebab EYD akan menghilangkan kesan karya Anda yang absurd. Sungguhpun Anda seperti seorang pelukis absurd yang tak pandai melukis sepatu sekalipun. Dan keabsurd-an karya Anda harus dipertahankan untuk tidak terbongkarnya rahasia itu.

Anda jangan bertumpu saja pada karya, tetapi penampilan turut membantu kesuksesan. Berpenampilanlah seeksentrik mungkin: baju kumal, rambut seperti tak terurus, dan itu akan memperlihatkan bahwa Anda seorang pemikir, pencipta yang tak sempat mengurus diri.

Bila dalam berpenampilan Anda belum mampu meyakinkan pengikut, ubahlah cara bicara Anda. Kapan perlu, Anda mencari tempat khursus yang menangani masalah itu. Sebab hal yang seremeh itu jangan pernah disepelekan.

Dengan mengikuti ketentuan tersebut, Anda tidak perlu meragukan tak mendapat pengikut. Pengikut itu perlu, sebab mereka seperti akar yang akan memperkokoh tumbuh dan tegaknya Anda. Dan ini jangan Anda lupakan, karena mereka telah menumbuhkan Anda, serta jangan lupa memperjuangkan karyanya kelak.

Setelah hubungan Anda dengan pengikut berjalan baik, maka Anda harus berteman dengan redaktur. Ini sangat perlu. Sebab seorang redaktur akan dapat mengontrol kepopuleran Anda untuk tidak merosot. Serta mengontrol karya-karya pengikut Anda untuk mengekor pada karya-karya Anda bila ingin dipublikasikan. Jangan sungkan bila ada kritik dari pihak yang tak senang, sebab kritik itu sangat diperlukan dan membangun. Dan jangan lupa untuk menyisiati jawaban pengkiritik tersebut dengan memberi kolom khusus untuk redaktur.

Saya berharap sekali Anda akan sukses dengan langkah-langkah ini. Cara seperti ini telah teruji, dan memperlihatkan hasil yang memuaskan. Sungguh malang jika anda tak mencobanya. Ini zaman instans dan harus berproduksi secara instans. Meskipun saya dan Anda hanya beda kemasan.

Saya tidak dapat membayangkan jika Anda tidak menempuh cara seperti ini. Apakah Anda bisa mendapat pengikut, dan meraih sukses dalam beberapa tahun atau bahkan beberapa bulan saja?

Anda tidak perlu membaca banyak, sebab itu akan menghabiskan waktu Anda. Menulislah dan ciptakan puisi dua ratus ekor sehari. Mumpung lagi hoki, dan menerbitkan buku sebulan sekali. Pengikut Anda banyak, dan ini sunguh menguntungkan. Sebab bagaimanapun, nama Anda telah tercatat di dalam sejarah perpuisian dan dapat menikmati hidup yang sejahtera.

Coba bayangkan kalau Anda menghabiskan waktu untuk membaca, mungkin Anda hanya mampu menciptakan satu puisi dalam tiga bulan sekali. Dan itu salah satu penghambat jalannya sukses. Meski puisi yang dua ratus ekor sehari yang Anda ciptakan itu hanya berjalan di tempat, tetapi Anda adalah pengarang absurd. Dan kelemahan itu tidak akan terlihat bila Anda tidak keluar dari jalur tersebut.

Sungguh, Anda benar-benar beruntung dengan kiat-kiat ini. Di mana pengarang lain tengah berjungkiran menulis puisi, tetapi untunglah Anda tidak mengalami hal itu. Dan Anda pun dapat menikmati hasilnya dalam waktu yang singkat.

Meski penentang-penentang Anda terlanjur iri, tetapi Anda harus memperlihatkan sikap yang tenang. Dan bila ada pengikut Anda yang menanyakannya, Anda cukup berkata: "Ya, begitulah orang-orang yang kurang kerjaan," dan wibawa Anda akan semakin membaik.
Walaupun karya Anda yang berkwalitas sayur itu telah diterima masarakat luas, namun Anda jangan jenuh menyebarkan pengaruh gaya karya Anda itu kepada pengikut. Jika perlu, dirikanlah komunitas. Meski hanya diisi oleh pengarang-pengarang sayur, namun Anda akan lebih dikenal daripada karya-karya Anda yang berkwalitas sayur itu.

Mendirikan komunitas itu perlu, sebab dengan begitu, Anda dapat mengerjakan karya secara borongan. Jangan pikirkan keoriginalan karya, tapi pikirkanlah bagaimana melambungkan nama komunitas. Meski karya Anda yang berkwalitas sayur itu tak lebih baik setelah dikerjakan secara demokrasi, namun begitulah hidup berkomunitas.
Kalau Anda sudah hidup berkomunitas, jangan pikirkan pula tentang hidup Anda akan terkotak. Bukankah kotak itu sangat misteri? Namun tergantung Anda mau melangkah seperti pion atau bebas semaunya seperti ster.

Dan satu hal lagi yang jangan Anda lupa, bahwa Anda jangan pernah berhenti mengulas karya-karya teman sekomunitas Anda. Kutiplah puisi-puisi si Anu di dalam cerpen, atau ulaslah karya-karya teman sekomunitas Anda sebentuk esai. Dengan begitu, kerjasama akan terasa seperti keluarga.

Meskipun sebenarnya yang diubah bukan mutu karya Anda, namun mutu karya akan terubah dengan cara mengubah cara berpikir Anda. Tetapi mengubah pikiran itu hanya dapat dilalui dengan membaca. Dan tindakan Anda yang selama ini ingin serba instans yang malas membaca, maka tindakan itu sudah tepat. Dan sekali lagi, tolong jangan dengarkan kata penentang-penentang Anda yang berkata miring. Di mana Anda sesungguhnya telah menerapkan kerja pengarang yang malas.

Anda tak perlu khawatir, sebab predikat seniman itu akan tetap Anda dapatkan. Dan bila Anda sudah menjadi pengarang preman, maka saya suka mengertak preman.
Setelah diterapkannya kiat-kiat seperti ini, semoga doa saya juga turut menyertai Anda. Saya tak henti-hentinya mendoakan Anda, dan saya juga mendoakan diri saya untuk dapat begitu. Semoga kita meraih sukses dengan langkah-langkah ini.

Payakumbuh, 26 Maret 2007

Bagaimana Perpuisian Indonesia Melihat Barat?

|

Perkembangan perpuisian Indonesia tak dapat dihindari oleh keadaan zaman yang mengikutinya. Yang mana derasnya perkembangan gaya hidup masyarakat urban di abad 21 telah membawa pengaruhnya ke setiap individu secara umum. Dan kegelisahan eksistensi individu telah mencipta penyekat-penyekat dan individu pun berpacu di dalam kegelisahannya.Apa yang membuat individu masarakat urban begitu gelisah? Kegelisahan-kegelisahan yang dialami oleh individu tersebut disebabkan terjebak ritinitas: rutinitas yang membuat individu lupa pada apa yang dituju, sesungguhnya. Lalu apa pula yang dicari oleh individu masyarakat urban sebenarnya? Kodratnya setiap manusia memiliki sifat keilahian. Yang mana kerinduan kepada apa yang menentramkan, ketakjuban kepada Zat Yang Maha Besar adalah suatu hal yang lumrah di tengah-tengah kemelutnya zaman global.

Kejenuhan individu masarakat urban tentang apa yang dicapainya telah menggerakkan individu tersebut kepada tujuan yang hakiki. Di mana kebutuhan akan prestise, mode dan eksistensi yang menunjang kemapaman telah membuat individu terkucilkan oleh apa yang dimilikinya, dan individu pun lalu jenuh kepada apa yang dimilikinya itu. Tetapi bagaimanapun, untuk menghindari kejenuhan, maka individu pun mencipta kebutuhannya supaya lebih bermakna. Baik untuk dirinya maupun sebagai produk untuk masyarakat umum.

Mengapa individu masyarakat urban lebih mengutamakan makna dari sekedar fungsi di setiap produknya? Ini tak lain dikarenakan manusia takut kesepian. Sebab kesepian-kesepian dan keterkucilan masyarakat urban telah membuatnya bertindak atas segala sesuatu menjadi bermakna. Dan pencarian makna atas segala sesuatu di atas dunia ini pun tak lain sebagai bentuk pencariannya dalam merindukan Tuhan.
Pencarian makna pada setiap apa pun oleh individu dikarenakan tidak lain mengalami kelimpahan. Baik kelimpahan materi maupun kelimpahan kedudukan dan prestise lainnya. Dan untuk memfungsikan setiap produk tersebut serta memiliki ketertarikan, maka individu pun mendesainkannya secara lebih bermakana pula.

Mengapa hal-hal yang saya tuliskan di atas sangat berkaitan dengan puisi? Untuk melihat perkembangan perpuisian Indonesia saat ini, tentunya kita berpatokan kepada Barat, yang mana Barat telah mengalami perekonomian dan teknologi yang pesat melebihi Indonesia. Tetapi mengapa hal itu berhubungan?

Untuk mengkaji pertanyaan di atas, tentunya kita harus kembali mempertanyakan apa itu puisi. Yang mana, puisi adalah bahasa dalam bentuk sastra yang universal. Puisi tidak membedakan tempat, adat-istiadat dan mampu melintasi ruang dan waktu. Dan oleh karena itu, tentunya kita sangat kekanak-kanakan jika membedakan puisi itu antara Barat dan Timur. Dan sebagai puisi yang baik, pastinya penyair dapat bersikap objektif. Yang mana, semakin jauh bentang waktu dan ruang dalam sebuah puisi, maka si penyair pun telah mengesampingkan sikap yang subjektif. Dan yang benar-benar diherankan bahwa dunia yang aneh ini serasa akrab dan dekat dengan kita, dan dunia yang sering kita isi rutinitas ini serasa asing dan bahkan kita tak mengenalinya sama sekali.

Sungguhpun begitu, namun di bawah matahari ini tidak ada yang baru, kata filsuf-filsuf yang lebih dulu memikirkannya. Dan oleh sebab itulah, maka puisi yang baik pasti akan menggali tentang makna-makna di dalam keseharian. Seperti misalnya sebuah dinding, pagar, tangga, bukankah itu sebagai rutinitas yang kita temui dan gunakan sehari-hari? Tetapi mengapa kita menjadi asing oleh benda-benda tersebut, bahkan tidak pernah sempat memikirkannya. Dan sebagai penyair yang berbakat, tentunya hal-hal tersebut tidak akan luput dari pengamatan.Namun sayangnya, hal-hal seperti ini sering memerangkap penyair. Yang mana gagasan yang terbersit dalam perenungan, seringkali tidak dibekali oleh tingkat berpikir yang tinggi. Malahan acap didominasi oleh luapan-luapan perasaan yang membuat karya itu dangkal. Sebab persyaratan penyair menulis puisi tidak lain harus rela tidak mengikutsertakan diri di dalam karyanya, dan setelahnya, makna di dalam karya diserahkan kepada pembaca.
Lalu karena itulah, sebagaimana yang kita ketahui, Barat merupakan tempat yang lebih dulu mencapai tingkat teknologi dan perekonomian berlimpah tanpa sempat menyerap makna tersebut. Oleh karena itu, apa salahnya bila kita menempuh cara tersebut: menafsirkan makna yang berlimpah. Sebab dari apa yang terjadi selama ini, individu masarakat Barat berpikirnya terlalu rasional, sebelumnya. Dan ketika era kelimpahan itu menyelimuti mereka, maka kejenuhan-kejenuhan individu pun terjadi. Lalu individu-individu Barat jadi rindu kepada yang sakral, kepurbaan, dan hal itu membuat individu Barat merasa lebih bermakna menjalani hidup. Tetapi apakah ini berpengaruh pula terhadap karya-karyanya, terutama puisi? Tentunya hal tersebut dapat saja kita pastikan. Di mana puisi-puisi Barat yang bertebaran belakangan ini, tidak lain selalu menggali ide tentang masa lalu. Baik puisinya yang dikemas itu berupa dongeng, mitologi, tetapi itu tak lain adalah sebagai yang bentuk "puisi epik" Bukankah puisi epik (Enuma Elish) sudah diawali 2000 SM di Babylonia? Puisi-puisi yang ditulis untuk memuja dewa-dewa oleh kaum pagan. Tetapi, mengapa hal itu dilakukan kembali oleh Barat?

Seperti yang ditulis di atas, bahwa ketika Barat mengalami era kelimpahan, maka pikirannya yang rasional selama ini telah merindukan sakralitas. Dan Timur (Indonesia) yang selama ini sudah digumuli oleh sakralitas, tentunya tidak menganggap hal itu sesuatu yang tabu. Tetapi, mengapa kita tidak menangkap keseharian yang dicapai oleh Barat tersebut dengan kesakralan kita? Dan tentunya kita tidak membutuhkan dongeng, fabel-fabel dan mitologi, bukan?Puisi atau apa pun yang berunsur mitos, sebetulnya tanpa disadari telah melemahkan rasionalitas. Sebab bagaimanapun, rasio juga salah satu intuisi yang dirahmatkan kepada orang yang telah dipilih-Nya. Dan hal-hal yang berkaitan dengan mitologi, lagi-lagi sangat dikhawatirkan akan diagung-agungkan dan dipuja-puja oleh manusia. Itu sungguh menyesatkan bagi orang yang telah menganut agama. Seperti kitab-kitab yang ditulis oleh manusia sebagai perumusan dasar berpikirnya dalam menempuh hidup yang baik dan benar, namun bagi pengikutnya telah dijadikan sebagai jalan petunjuk hidup. Bahkan telah membabtis dan mengakui manusia itu sebagai tuhan, dewa ataupun lainnya. Padahal yang ditulis oleh manusia tersebut di dalam kitabnya hanyalah berupa karya sastra ataupun filsafat. Dan sebagai manusia yang beragama, tentunya kita telah berperilaku zalim kepada Penguasa Semesta.

Tidak baiknya menulis puisi berdasarkan mitologi, tentunya kita telah melakukan persaingan terhadap kitab suci-kitab suci yang telah ada selama ini. Selain telah mencipta dan menyebar kebodohan terhadap manusia, kita juga telah melumpuhkan rasionalitas dengan takhyul-takhyul tersebut di dalam puisi. Dan tanpa kita sadari kita telah melakukan kemunduran peradaban? Di manakah letak pertanggungjawaban sebagai penyair? Yang mana pengabdian penyair tidak lain untuk menjunjung kemajuan peradaban itu sendiri. Baik kemajuan spritual ataupun pembangunan mental yang mencerahkan.
Besarnya pengaruh penyair dalam memberi pencerahan mental di zaman global ini, tidak lain dikarenakan kerutinan dan kegelisahan individu masarakat urbanlah yang telah menderanya untuk mengobati kegelisahan, dan kesenian adalah cara terampuh dalam mengobati penyakit mental tersebut. Di mana puisi yang juga salah satu seni, telah menjadi alternatif bagi individu masarakat urban untuk mencari kesakralan seperti yang ditulis di atas. Maka oleh sebab itulah penyair-penyair Barat sangat antusias terhadap mitologi, dongeng dan fabel-fabel. Tetapi, dan sungguh memprihatinkan, bahwa penyair-penyair kita turut pula mengikuti Barat yang mengalami kemunduran. Di antara penyair-penyair Indonesia itu (jika melihat karya-karyanya) seperti Hasan Aspahani, Mardi Luhung dll. Dan koran-koran di Indonesia yang menerbitkan puisi di hari Minggu, ternyata menyambut baik akan itu, bukankah itu sebuah keganjilan? Bukannya kita membedakan puisi Barat dan Timur, tetapi kita hanya menjadikan Barat sebagai tolak-ukur dalam pencapain-pencapain kelimpahan makna dan bukan mengikuti kemundurannya.

Payakumbuh, 2007
Read more...

Merujuk pada Psikoanalisa

|

Sigmun Freud mengatakan bahwa kejadian yang ditangkap oleh indra akan mengendap di alam bawah sadar. Dan tubuh yang menjalani kenyataan akan mengalami mimpi-mimpi dari pernyataan alam bawah sadar itu untuk pemenuhan hasrat yang tak tersampaikan, dan hal itu akan terbukti dari 20% kapasitas tidur telah dipenuhi dengan mimpi, sungguhpun tidak disadari ketika bangun.

Namun teori Freud akan penganalisaan alam bawah sadar telah menumbuhkan aliran "Romantik" di Perancis. Yaitu sebagai penolakkannya terhadap kaum berjuis akan kemapanannya baik di bidang seni rupa, sastra, budaya, ataupun politik. Sebagaimana yang diketahui, bahwa Andre Breton telah muncul mempelopori gerakan itu.
Tetapi sebelum membahas aliran Romantik lebih jauh, ada beberapa hal yang harus dijabarkan dari pengaruh filsafat Freud terhadap perkembangan sastra. Di mana penggalian alam bawah sadar dari Freud telah menumbuhkan surealisme pada tahun 1924 di Perancis. Di mana Andre Breton di dalam "manifesto surealis"nya menyatakan bahwa kesenian harus berasal dari alam bawah sadar. Namun surealisme juga menumbuhkan sayap, seperti simbolisme dan romantisme.

Simbolisme dapat diketahui dari karya-karya Sitor Sitomorang di Indonesia dan Arthur Rimbaud di Perancis. Di mana puisi-puisinya dinyatakan dalam simbol-simbol, seperti: Malam Lebaran, judul puisi Sitor Sitomorang, dengan larik: Bulan di atas kuburan.
Walaupun demikian halnya simbolisme, namun ada hal bila mengkaji romantisme, di mana aliran ini sangat berkembang di kesasteraan dan seni rupa serta musik.

Romantisme yang merujuk pada filsafat freud, akan mencari-cari dan menghanyutkan perasaannya untuk menggali alam bawah sadar. Tidak heran jika Lugwid Van Beethoven yang terganggu pendengarannya dan buta dapat memainkan musik dengan instingnya. Namun hal ini dapat dipertanyakan kembali, bahwa, seberapa jauhkah insting dapat bertahan di dalam diri untuk dapat romantis?

Jika perlu diketahui, bahwa pengikut romantisme banyak mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri di Perancis. Sebagaimana insting dan kepekaan rasa akan terus berkurang seperti usia. Dan nasib tragis pun, banyak dialami oleh penganut romantisme yang mengakhiri hidupnya pada usia tak lebih dari tigapuluh tahun.

Meski romantisme mengembar-gemborkan slogan "seni untuk seni", namun hal itu sangat bertentangan bila dihubungkan dengan apa yang dikatakan Remy Sylado, bahwa "seni itu berada ditelapak kaki, bukan dijunjung di kepala". Tetapi bagaimanapun, romantisme telah melepaskan Perancis dari kukungan Raja Lois VI—dengan penyerangan ke penjara Bastille—dan membawa Perancis pada revolusi.

Namun di antara aliran simbolisme dan romantisme, telah melahirkan aliran imajisme di London. Dan di antaranya ada Wiliam Butle Yeats sebagai pelopor.

Imajisme berkembang di awal abad 20, dengan pembaharuan dalam kesasteraan tentang "pengambilan ide-ide dari mitos-mitos dan legenda. Baginya, "semakin jauh bentangan waktu dan jarak, maka semakin baguslah puisi". Tidak heran jika di dalam puisi-puisinya banyak ditemukan mitos-mitos Yunani, dan legenda-legenda yang bertebaran banyak di seluruh dunia. Namun saat ini, ada yang mesti terlontar dari pertanyaan, bahwa "Mengapa tidak menulis cerita rakyat saja, bukankah banyak bentuk prosa yang menampung akan itu?"

Meskipun banyak aliran yang berkembang saat bersamaan di Eropa dan sesudahnya, namun ada beberapa hal yang perlu dikaji lebih jauh akan romatisme tersebut. Bahwa hal itu telah berkembang pula di Indonesia sendiri, dan itu dapat lihat dari karya-karya Cecep Syamsul Hari, misalnya, Djamal D. Rahman, Chahjono Widianto, dan juga Iyut Fitra yang terbungkus pada puisi-puisi awalnya dan yang di dalam buku kumpulan puisi Musim Retak-nya. Namun pada puisi-puisi terakhirnya, jelas, sangat berbeda akan itu.
Dan bila romantisme telah jauh ditinggalkan di dalam perkembangan kesasteraan Eropa, mengapa hal itu tetap saja diikuti di kesasteraan Indonesia? Tapi bagaimanapun, mengikuti perkembangan pemikiran zaman sendiri terasa lebih maksimal untuk berkreatif. Bukankah Anda juga merasakannya demikian?

Payakumbuh, September 2006—14 April 2007
Read more...

Media

|

Baudrillard mengatakan, jika Anda disuguhi berita/opini itu ke itu yang dibumbui dengan berbagai polling, pendapat dari berbagai elemen (meski narasumber tak memahami peristiwa-pen), maka masyarakat (konsumen) pun akan terbentuk paradigma yang seragam.

Hitam dan putih, fiktif dan nyata tentu menjadi perbedaan tipis yang menggerogoti manusia hari ini. Ketika berbagai realitas yang seharusnya dikomsumsi massa, maka pengelabuan fakta pun menjadi sah-sah saja berdasarkan kepentingan dan pesanan. Dan menjadi manusia sadar atas apa dan bagaimana informasi serta mengembangkan kepribadian tidak selalu jadi terbebaskan.

Manusia-manusia hari ini belajar untuk mengejar penjara dalam pikirannya. Ketika kebebasan dapat dijalani dengan berpikir, maka pikiran-pikiran hari ini sama halnya dengan penjara. Fakta tidak dapat lagi mengemukakan realita; apakah Anda yang menonton televisi atau televisi yang melihat Anda?

Abad 21

|

Abad 21 era baru (new wave). Segala post berakhir di sini. Manusia makin instans. Segala tersaji dengan cepat. Apakah informasi, hiburan, gaya hidup. Pagi hari Anda boleh jogging sembari mendengar lagu kesayangan di eatpone dan menerima pesan pendek dari telepon selular atau surat elektronik.

Setelah puas menikmati udara pagi, sebaiknya sarapan pagi dihiasi dengan duduk di depan televisi atau depan komputer sembari mengecek indeks bursa saham, membaca berita pagi ini, atau menerima informasi dari perusahan jasa informasi karena Anda telah berlangganan tentang apa saja dan sejenisnya.

Anda harus memastikan hari apa sekarang. Tidakkah Anda ingat sekarang hari Sabtu? Bagaimana jika Anda memanjakan diri di sebuah panti pijat refleksi? Bila Anda belum ingin buru-buru pulang, sebaiknya nonton di bioskop sebuah ide yang bagus. Ohya, jangan lupa pasang di alat pengingat Anda untuk shopping sepulang dari bioskop. Apa kulkas Anda masih terisi? Sebaiknya dikontak saja hippermarket langganan Anda untuk diantar ke rumah. Tapi pesta malam nanti Anda masih ingat, bukan? Saya menyarankan agar Anda memakai Jas Italy. Koleksi sepatu Gucci Anda tidak ada salahnya ditambah. Hmmm, Anda seperti Pangeran yang datang kayangan.

Sore begini Anda lebih baik mandi susu. Lemon tea akan saya antar ke sana. Jangan lupa, sesudah berpakaian, Anda boleh mengatakan kepada saya apa lagi membutuhkan pizza, keju belanda, atau sedikit soda sebelum menyantap makanan pembuka. Maaf, apa Anda sudah sudah mengonfirmasi teman provider Anda di dinding testi?

Oke, apakah Anda tidak terburu-buru ke pesta malam ini? Sampai nanti, senang bekerjasama dengan Anda.

Sutan Takdir Alisyahbana dan Chairil Anwar

|

Banyak orang boleh saja menganggap Chairil Anwar sebagai penyumbang terbesar bagi kesasatraan Indonesia modern, namun semua itu hanya penyambung dari usaha kerja keras Sutan Takdir Alisyahbana. Seperti main sepak bola, Chairil cuma menendang bola dari operan Takdir yang mati-matian mengarak dan mengecoh penjaga gawang lawan, dan di lain hal atas usaha Takdir, Chairil mendapat kesempatan mengubah skor permainan.

Takdir, pencetus gagasan pertama untuk mengubah bahasa dan sastra Indonesia. Meninggalkan kebudayaan lama yang berbau pantun dan bangkit dengan bahasa dan budaya modern. Di lain pihak, Sanusi Pane dan Ki Hajar Dewantara menganggap tindakan Takdir sebagai hasil persekongkolan terhadap Belanda. Memang kekhawatiran Sanusi dan Ki Hajar atas pandangan sikap Takdir yang kelewat terburu-buru menduplikat Barat sangat beralasan, sebab bagaimanapun, seniman-seniman atau masyarakat Indonesia belum sepenuhnya mempunyai pijakan dasar yang kuat atas kebudayaannya serta masih rendahnya tingkat pendidikan yang berkembang masayarakat.

Lagi-lagi, Takdir mengecam pendirian penganut tradisi lama yang ortodoks dan tradisionil. Takdir menyuarakan untuk membangun kebebasan kreatif yang demoktariv serta berpijak pada wawasan dan perpandangan universal. Namun sayang sekali, Lembaga Bahasa Pemerintah juga ikut-ikutan menghujat Takdir.

Dari segi karya, sajak-sajak Takdir memang masih ditulis dengan teknik subjektiv, namun dari segi gagasan dalam ruang teks, Takdir memiliki intituisi jenius. Memang harapan Takdir agar sajak-sajaknya dapat terlepas dari gaya bahasa lama tidak berhasil, namun dari cara bentuk menulis sajak yang meninggalkan soneta dan pantun, Takdir berhasil mengubah khazanah Sastra Indonesia Modern. Tentu, lagi-lagi harus menjadi duplikat Barat.

Jika Takdir demikian, bagaimana pula dengan Chairil?
Chiril hanya meneruskan cita-cita Takdir? Meski Chairil mati-matian menolak konsep Takdir (Chairil lebih menjunjung hukum universalitas), toh dari karya-karyanya tak ada bedanya. Bahkan dari segi gagasan dalam teks, Chairil harus hormat kepada Takdir. Chairil hanya menemukan bentuk pengucapan (dan sajak-sajak Chairil termasuk penyebab utama akan perubahan Bahasa Indonesia setelahnya).

Bagi masyarakat selain dan tidak mengetahui bahasa Minangkabau, gaya ucap dalam sajak-sajak Chairil memang menyentak dan punya sensasi tersendiri. Tapi bagi masyarakat Minangkabau apalagi Payakumbuh (kampung Chairil tidak sampai 10 km dari batas kota Payakumbuh) itu biasa-biasa saja, menurut saya. Penemuan bahasa yang diagung-agungkan Chairil, tidak lain hanya duplikat cara berbahasa di Minangkabau yang berkembang secara lisan. Dan di sini, Chairil memiliki kemampuan berbahasa Perancis, Inggris, Belanda, Indonesia dan bahasa Minangkabau.

Contoh bahasa Indonesia yang diubah ke bahasa Minangkabau lalu dikembalikan ke dalam bahasa Indonesia (dari penulis):



Pendayung telah hanyut ke ujung malam

Hanyuiknyo pandayuang ka ujuang malam

Hanyutnya pendayung ke ujung malam

Cuplikan Filsafat

|

Setiap tempat ataupun individu memiliki falsafah hidupnya sendiri. Baik penggalian secara intens maupun ketidaksadaran dari bebuah perenungannya akan hidup. Dan sebagaimana dari asal katanya “philosophia” dalam bahasa Yunani, tidak lain dari penggalan “philia = persahabatan, cinta dan sejenisnya” serta “sophia = kebijaksanaan”. Dan jika diartikan secara harfiah, maka filsafat berarti “pecinta kebijaksanaan”.

Filsafat secara garis besar bertujuan untuk memahami bagaimana manusia dan menangkap problema kehidupan zaman supaya kehidupan manusia berjalan dan terarah lebih baik. Memahami manusia bukan dengan melihat bagaimana status sosialnya, keturunan, akademis ataupun berbagai mebel-embel lain, melainkan bagaimana nilai-nilai etika atau boleh dikatakan sebuah kualitas moral pada manusia itu sendiri.

Faktor pendukung supaya filsafat berjalan lebih baik disebabkan karena adanya budaya berpikir merdeka dari sebuah komunitas, bangsa dalam tatanan kehidupan masyarakat. Maka dengan begitu setiap pikiran akan mendatangkan anti-tesis dan penolakan dari sebuah anti-tesis tersebut akan menciptakan anti-tesis baru serta anti tesis yang baru tersebut telah menjadi sintesis baru lagi. Dan begitulah filsafat menanggapi zamannya sampai dunia ini tak ada lagi.

Karena fisafat tak pernah tuntas mencari kebijaksanaan pada manusia, maka filsafat sering diartikan sebagai teka-teki. Atau bolehlah sering dilontarkan dengan lelucon, “mana dulu ayam daripada telur?” dan guyonan ini tentu sebuah pikiran dari keragu-raguan kepada filsafat. Dan filsafat itu sendiri lahir karena keragu-raguan itu sendiri. Seperti Rene Descartes (1596—1650) yang menjadi tonggak Renaissans, juga sebagai bapak filsafat modern menyatakan bahwa “hanya ada suatu hal yang tidak dapat diragukan, yaitu “saya ragu-ragu”. Jika menyaksikan sesuatu, saya “menyadari” bahwa saya menyaksikan adanya. Maka dengan keragu-raguan itulah kenyataan “ada”nya saya dinyatakan ada. Dan sebuah norma Descartes tentang “saya berpikir maka karena itulah saya ada” telah menentukan kebenaran.

Namun bagaimanapun, dunia terus berkembang dan probelma kemanusiaan terus bertambah. Dan rasonalis (berpijak ke akal) Descartes pun (ada pun tokoh-tokoh lain seperti Baruch Spinoza dan C. Jottfried Wilhelm Libniz) mendapat kecamanan oleh generasi sesudahnya (sebaiknya hal ini kita sebut penyempurnaan) yang lebih berpatokan kepada pengalaman (empiris). Yang mana sebuah pengetahuan tercipta karena adanya sebuah interaksi dari pengalaman. Dengan istilah sederhananya, pengalamanlah yang menciptakan pengetahuan. Di antara tokoh empiris tersebut sebutlah Thomas Hobbes, Jhon Locke (1632—1704) dan David Hume (1711—1776) yang berkembang di Inggris. Dan terus sesudahnya filosof-filosof melakukan penyempurnaan dengan penemuan metode akan naturalis, materialis, idealis, eksistensialis, fenomenologi dan sampai kepada dunia saat kita sekarang yaitu strukturalis dan pragmatis. Di antara nama-nama strukturalis tersebut tidak lain Levi-Strauss (lahir 1903) Michel Foucault (lahir 1926) dan pragmatis dipelopori oleh Charles Sanders Peirce, William James dan Jhon Dewey yang berperan dalam penganalisaan bahasa. Serta tentang metode pemahaman akan dunia digital, virtual dan sebagainya yang dipelopori oleh Jean Paul Baudrillard dan sedang berlangsung pada abad sekarang, tentu belum bisa ditarik tesis baru. Karena filsafat tersebut masih berlangsung dalam zamannya dan belum menjadi sejarah.

Meski demikian halnya, sejarah filsafat tentu mengalami masa-masa kegemilangan dan kekelaman. Dan tentu juga memiliki banyak cabang sesuai tuntutan zaman dan ataupun minat dari para folosof itu sendiri. Baik secara kajian filsafat ilmu dan etika. Dan tak jarang pula filosof ambil bagian dalam filsafat yang terjun langsung dalam kumpulan manusia seperi Albert camus yang seorang penulis dan Jean Paul Sartre serta Karl Marx yang berperan dalam politik. Dan politik marxis pun telah menginspirasi Friedrich Engels, Lenin, Stalin dan Mao Tse Tung serta telah menciptakan pembantaian manusia terbesar sepanjang abad.

Kekelaman filsafat Barat (dalam hal ini Eropa sebagai patokan karena lebih dokumentatif) di awali dari Zaman Patristik dan Skolatik. Yaitu sebuah kesuraman atau sering dinamakan Abad Pertengahan.

Adapun dari klasifikasi sejarah filsafat di awali dari Zaman Yunani Kuno (klasik) dalam hal ini filsafat pra-sokrates yang masih bergulat dengan pertanyaan pada rahasia alam. Di antaranya Thales (lebih kurang 600 SM), Anaximemander (610—540 SM), Anaximenes (585—525 SM), Pytagoras (500 SM), Herakleitos (500 SM), Permenides (515—440 SM).

Pada Zaman Klasik di antaranya Socrates (470—400 SM), Plato (428—348) dan Aristoteles (384—322 SM). Dan pada masa Helenis, saat Iskandar Agung mendirikan kerajaan raksasa yang membentang dari India Barat sampai Yunani dan Mesir dengan kegemilangan budaya yang disebut helenis dan berpusat di Athena (Yunani), Alexandria (Mesir) dan Antiochia (Syria). Aliran yang menonjol pada saat itu di antaranya: Stoisis (filsuf tong) di pelopori oleh Zeno (333—262 SM), Epikuris oleh Epikuros (341—270 SM) serta Neo-platonis oleh Plotinus (205—270 SM)

Lalu pada Zaman Patristik dan Skolastik (Bapak-bapak Gereja). Dan ini terbagi dua, di antaranya Patristik Timur (Yunani) dan Patristik Latin (Patristik Barat). Ada pun nama-nama tersebut dipelopori oleh Clemens (150—215), Gregorios (330-390), Basillus (330—379) Dionysios Areopagita ( 500). Dan Patristik Latin (Barat) di antaranya, Hilarius (315—367), Ambrosius (339—397) Hieranymus (347—420) dan Agustinus (354—430)

Namun pada Zaman Patristik dan Skolastik ini di Eropa (atau abad pertengahan), filsafat telah mengalami kemajuan pesat di Timur Tengah. Dan dilihat dari sejarahnya tentang penaklukan daerah-daerah kekuasaan islam yang sampai ke Yunani dan Italia Selatan serta Andalusia (Spanyol) yang di awali abad ke delapan, maka karya-karya Aristotels telah menciptakan peradaban terbesar islam sepanjang sejarah. Segala disiplin ilmu berkembang, mulai dari kedokteran, botani, astronomi, matematika, fisika, politik, figh, dan lain-lain karena keberanian dan keindependenan berpikir yang tidak terlembaga dalam instintusi agama. Dan Ibnu Rusyd filosof terbesar dan terakhir yang dimiliki umat islam. Di Eropa dengan nama populer Averroes. Dan karena keberaniannya tersebut, telah menginspirasi masyarakat Eropa pada abad 13 dan 14 dalam melakukan hal yang sama kepada gereja.

Sebelum memasuki masa Renaisance atau di pengujung abad pertengahan, Thomas Aquinas (1225—1274), Bonaventure (1217—1274), Yohanes Duns Scotus (1266—1308) adalah fiosof-filosof gereja terakhir abad pertengahan. Karena filsafat diajarkan di sekolah-sekolah biara dan memakai kurikulum internasional. Lalu filosof-filosof yang di luar gereja pada zaman ini seperti Nicollo Macchievelli (1469), Thomas Hobbes, Thomas More (1478—1535) dan Francis Bacon (1561—1626) menegaskan bahwa pengetahuan bukan berasal dari kitab suci, ajaran agama ataupun dari penguasa melainkan dari diri sendiri. Dan Francis Bacon pada akhir-akhir ini tentang metode filsafat ilmu dari buah pikirannya sangat dibutuhkan oleh berbagai disiplin ilmu. Ya, buah pikiran yang berasal dari lima ratus tahun yang lalu. Namun baru sekarang bisa diterapkan. Lalu soal Ibnu Rusyd (Averroes) yang ditinggalkan saudaranya sesama muslim di lingkungannya karena dianggap ateis, pada abad terakhir sekarang umat muslim telah merangkulnya kembali. Padahal Ibnu Rusyd menjadi motivator terbesar dalam kebangkitan zaman renaissance di Eropa.


Payakumbuh, 23 mei 2009


Daftar Pustaka:

Dr. M. Solihin, M. Ag
Perkembangan Pemikiran Filsafat dari Klasik hingga Modern


Drs. Rizal Mustansyir M. Hum dan Drs. Misnal Munir M. Hum
Filsafat Ilmu

Gaarder, Jostein
Dunia Sophie

Etika dan Keberbagaiannya

|

Socrates

Socrates salah satu manusia yang paling bahagia di dunia. Meski ia memiliki pisik tubuh yang pendek, bentuk hidung yang bulat dan besar, pipi tembem dan perut gendut serta matanya yang tersembul keluar, namun Socrates seorang berbudi luhur, jujur, adil, sederhana, berterus terang, periang, tidak memilih teman, tenang, tangkas serta humoris. Ia suka berjalan di sepanjang alun-alun kota Athena untuk mempelajari tingkah laku manusia. Dan ia suka bertanya kepada siapa yang ditemuinya. Baik kepada pedagang-pedagang pasar, budak-budak, politisi ataupun masyarakat umum. Dan sebuah guyonan yang tak hilang sepanjang masa tidak lain sebuah ucapan “Sesekali janganlah kau pernah bertemu dengan Socrates jika kau tak keberatan dipermalukan di depan umum”. Dan ketika siapa pun bertanya mengapa ia tidak pernah bepergian keluar kota, maka ucapan yang keluar dari mulut Socrates adalah “Pohon-pohon dan padang rumput di desa-desa tidak pernah mengajari saya apa-apa”.

Socrates lahir di Athena pada tahun 470—399 SM dengan ayah seorang pembuat patung dan ibunya seorang bidan. Dalam menerima pendamping hidup pun ia juga tidak termasuk beruntung. Istrinya bernama Xantippe, konon seorang wanita yang judes. Namun Socrates memilki metode dialektika tersendiri dalam membuktikan kebenaran filsafatnya yang objektive. Sebab metode dialektika ini lahir karena ajaran kaum sofisme yang mengatakan bahwa kebenaran itu relative.

Dalam pelaksanaan metode dialektika, Socrates bertanya kepada semua kalangan. Dan dari sini maka akan ditemukan pengetahuan itu berupa “bentuk umum” dan “bentuk khusus”. Dan Aristoteles sesudahnya mengemukakan dasar pengetahuan tersebut sebagai “induksi” dan “definisi”. Hasil pengetahuan ini dapat dicontohkan pada saat sekarang seperti pembuatan baju. Yang mana kita cukup mengatakan modelnya saja kepada tukang jahit. Sebab pengetahuan umum tentang model baju yang kita pesan telah merata pada semua orang. Dan itu “bentuk umum”. Sedangkan “bentuk khusus”-nya agar diketahui oleh tukang jahit berapa ukuran leher, lingkar badan, tentu si tukang jahit harus mengukurnya langsung.

Etika Socrates ialah “budi adalah tahu”. Bagi siapa yang mengetahui tentang kebijakan, maka dengan sendirinya akan terpaksa melakukan kebajikan. Dan menurut Socrates, definisi tidak diperuntukkan untuk ilmu pengetahuan saja melainkan untuk kebutuhan etika.

Dan yang teramat penting, Sokrates meyakini bahwa akal budi adalah citra Tuhan yang diturunkan kepada manusia. Tentu hal ini akan membuat kepercayaan masyarakat Yunani yang telah ada akan menjadi kacau. Dengan suara minoritas dalam majelis dalam pengadilan untuk Socrates, maka Socrates dijatuhi hukuman meminum racun getah cemara. Meskipun begitu, Socrates masih diberi pilihan jika bersedia meninggalkan Athena. Namun alternative tersebut tidak diterima Socrates karena memang begitulah sebuah kebenaran harus dijalankan. Dengan bahagia, Socrates meminum racun getah cemara di hadapan teman-temannya.

Sedikit tentang Etika

Etika berasal dari kata Yunani, yaitu “ethos”. Dalam arti secara luas adalah “kebiasaan”. Etika salah satu cabang filsafat. Secara garis besar dapat dikelompokkan atas:

Pertama, Etika Deskriptif. Yakni ilmu yang mendiskripsikan tentang perilaku-perilaku dan keyakinan-keyakinan moral.

Kedua, Metaetika. Sebuah etika yang memfokuskan pada analisis makna, seperti makna kebebasan, hak, tanggungjawab, dsb.

Ketiga, Etika Normatif Umum. Yaitu etika yang memformulasikan dan melestarikan dasar-dasar aturan kehidupan moral.

Keempat, Etika Terapan (khusus). Yaitu menurunkan prinsip etika abstrak umum untuk segala masalah etika.

Bentuk-bentuk Etika

Suatu hari ketika Sokrates menyusuri alun-alun, tentu didampingi seorang muridnya Plato yang tampan, punya daya tutur yang sopan dan bersuara halus serta berbakat dalam sastra, Socrates pun menyuguhkan pertanyaan (tentu dengan suara halus dan sopan pula) akan “Apa hal terbaik untuk manusia?” dan para “hedonis” menjawab dengan kata “kesenangan”. Hal terbaik yang dilakukan manusia adalah dengan memuaskan kesenangan dan kenikmatan di dalam diri.

Adapun bentuk-bentuk dari etika di antaranya:

Pertama, Hedonisme. Berkembang di Yunani dan dipelopori oleh Aristippos (433—355 SM), juga murid Socrates. Yang beretika bahwa hal terbaik bagi manusia adalah mencari kesenangan namun tidak terbawa arus olehnya. Dan tokoh lain adalah Epikuros (341—270 SM) yang memimpin sebuah sekolah filsafat di Athena.

Kedua, Eudaimonisme. Dirintis oleh Aristoteles (384—322 SM). Etikanya berbunyi di dalam bukunya “Nicomedian Ethics” bahwa manusia mengejar suatu tujuan, sedangkan tujuan tertinggi dalam hidupnya adalah kebahagiaan. Maksud Aritoteles berdasarkan bukunya bahwa mencapai tujuan terakhir apabila manusia telah menjalankan manfaatnya dengan baik maka ia akan mendapat kebahagian.

Ketiga, Utilitarianisme. Dipelopori oleh David Hume (1711—1776) dan disempurnakan oleh Jeremy Bentham (1748—1832). Etika ini digunakan untuk memperbaharui hukum Inggris. Pikirannya berbunyi (Hume) bahwa perbuatan harus dinilai baik atau buruk selama masih memberikan manfaat atau merugikan sebanyak orang mungkin. Namun Betham menyempurnakan dengan keabsahan moral terletak pada kesenangan melebihi ketidaksenangan secara kuantitatif. Dan ini dapat diperhitungkan secara matematis dan statistik. Dan ini termasuk Utilitarianisme Klasik. Sedangkan Ultitarianisme Aturan dikemukan oleh Stephen Toulmin. Ia menegaskan bahwa prinsip kegunaan tidak harus diterapkan atas satu perbuatan melainkan atas aturan-aturan moral yang mengatur perbuatan-perbuatan. Dengan argumennya, “Apakah aturan moral yang menepati janji menyumbangkan paling banyak kebahagian untuk banyak orang?”. Namun filosof Richard B. Brand mengusulkan supaya bukan aturan moral satu demi satu, melainkan seluruh aturan moral yang diuji dengan prinsip kegunaan.

Emanuel Kant (1724—1804)

Kant seorang filosof moral terbesar dan terakhir sepanjang sejarah. Ia mengemukan bahwa “bertindaklah sehingga prinsip dari kehendakmu dapat diberlakukan sebagai prinsip yang menciptakan “hukum universal”. Ada pun dari prinsip tersebut adalah:
Pertama, Prinsip Otonomi. Maksudnya penghormatan kepada pribadi. Jadi sebelum memberikan pilihan moral, latar belakang pelaku harus dipertimbangkan dan diperhatikan.

Kedua, Prinsip Kemurahan Hati. Prinsip ini mengemukan untuk tidak menyakiti orang lain dan berusaha membantu.

Ketiga, Prinsip Keadilan. Dasar prinsip ini berupa keadilan individu ataupun sosial telah diberlakukan adil jika ia telah diberikan apa yang ia janjikan, apa yang seharusnya ia dapatkan atau mampu secara absah mengklaimnya.

Payakumbuh, 24 Mei 2009

Daftar Pustaka:
Dr. M. Solihin, M. Ag
Perkembangan Pemikiran Filsafat dari Klasik hingga Modern
Drs. Rizal Mustansyir M. Hum dan Drs. Misnal Munir M. Hum
Filsafat Ilmu
Gaarder, Jostein
Dunia Sophie

Fenomena Provider Pertemanan

|

Pada dasarnya manusia makluk sosial. Selagi masih dalam psikologi sehat, manusia menyenangi pergaulan; adanya interaksi dari sesama perkumpulan, perhatian, masukan dan saling mengisi satu sama lain.

Setelah zaman bergulir, manusia pun menjadi makluk individu dalam masyarakat global. Kepadatan aktivitas menjadi penyekat untuk bersosialisasi. Hal ini pun menjadi problem dasar manusia modern dalam pemenuhan hasrat psikologi sosialnya.

Adanya ketidakpuasan manusia modern dalam kehidupan nyata, maka bersosialisasi di dunia maya pun menjadi solusi bagus. Jika dalam realita perbedaan kelas, gender, kedudukan sosial sebagai ikon eksistensi, namun di dunia maya hal tersebut tidak berlaku. Tidak ada yang menyekat Anda berteman dengan seorang menteri sekali pun bila permintaan pertemanan Anda dikonfirmasi oleh calon teman Anda.

Dalam provider pertemanan, Anda tidak perlu meninggalkan rumah untuk bersosialisasi. Duduk yang manis di depan layar komputer atau boleh juga Anda meng-upload-nya ke telepon genggam. Dengan telepon genggam, Anda masih dapat melakukan rutinitas, bepergian, shopping atau di atas kendaraan sekalipun bisa online.

Seperti hipperealitas Baudrillard, inilah zaman modern sesudah modern dan sehabis modern. Yang mana perbedaan georafis tak lagi menjadi penyekat dan batas. Siapa yang mengunjungi siapa dan siapa yang dikunjungi siapa. Siapa yang ditonton dan siapa yang menonton. Dan hal ini melebur dalam provider pertemanan sebagai wadah bersosial. Dan setiap individu terus membangun penjara dalam pikirannnya, dalam setiap ruang sosialnya. Ketagihan. Tak mau lagi keluar.

Kunang-kunang di Sebuah Malam

|

Lampu-lampu yang jauh di perumahan bekerlap-kerlip. Ia terus melangkah. Mendendang-nendang kerikil dan sesekali langkahnya terhenti menyaksikan serangga kecil yang hampir tergilas oleh sepatunya. Tak ada yang aneh, memang, tapi peristiwa-peristiwa kecil dalam keseharian kembali mengusik kemanusiaannya dan tiba-tiba saja ia rindu untuk menangis.

Lampu-lampu terus bekerlip. Semakin jauh terlihat seperti kunang-kunang dan ia ingin menangkapnya untuk dimasukkan ke dalam botol kaca yang masih disimpannya sebagai saksi masa kanak. Lalu berlari ke arah Ibu sembari merapikan rambut klimisnya dan berkata, “Bu, saya sudah dewasa!” Ibu akan tertawa setiap mendengar celotehan anaknya meski airmata tak tahunya sudah mengalir lalu lekas-lekas melepas rangkulannya dan membiarkan anaknya membuka jendela semalaman untuk bermimpi dengan kunang-kunang. “Tapi belum ada yang berubah”, pikirnya, kerlap-kerlip lampu di kejauhan pun membentuk wajah Ibu dan melambai-melambai menyuruh lekas tidur dan tak boleh bermain kunang-kunang malam ini.

Ia semakin jauh melangkah. Kerlap-kerlip lampu semakin asing. Kerikil-kerikil jalan tak lagi mengenal derap langkahnya. “Ke mana kaupergi, Sayang?” bisiknya, meski helai-helai uban terus tumbuh dengan malu dan di kejauhan pun lagu ringkik serangga mengingatkannya pada suatu tempat entah di mana. Di mana sungai-sungai mengalir hening, angsa-angsa memadu kasih, cahaya-cahaya akan membuat siapa saja terpesona dan tak akan sanggup berpaling.

Kunang-kunang terus beterbangan dalam kenangan. Lalu ia membayangkan sedang apa penghuni rumah yang selalu saja menjadi kunang-kunang itu, dan ia berusaha untuk tidak menangis. Mungkin di salah satu rumah itu ada ibu yang memiliki anak wanita yang cantik, manis, pendiam dan manja. Mungkin namanya Lala, Luchy atau Raysa. Sedang apa ia? Apa sedang menangis di tempat tidurnya karena tak kesampaian cinta pertama? Namun tiba-tiba ia teringat Ibu. Dan kerlap-kerlip lampu di kejauhan semakin nyata menjadi kunang-kunang. Ia berlari di keremangan dan terus menangis mengejar suara di kejauhan. Pulang! Pulanglah, Sayang!

Payakumbuh, 2008

Suatu Dunia di Siang Hari

|

Siang seterik biasanya. Debu jalanan mengepul-ngepul. Kerumunan manusia seperti tak ada habisnya. Tapi ia hanya sendiri, jauh, jauh di luar dunia yang tak ditempuh oleh sesiapa. Prak, “Busyet, kalau lewat, lihat-lihat, Bung! Memangnya bokap sampean punya jalan.”

Debu-debu terus mengepul. Sesekali langkahnya seperti ingin bicara. Ia terus berjalan. Berjalan di dunia yang tak akan ditempuh oleh sesiapa.

Payakumbuh, 2009

Rambut

|

Angin bertambah nakal. Membelai-belai rambut. Mengaduk-aduk udara.

Gadis remaja, seorang saja, terusik karena rambutnya. Tidak karena lain. Hanya karena gerai rambutnya. “Rambut ini memang ingin disentuh, tapi bukan oleh kau.”

Angin selalu menyentuh. Rambut kelewat rindu. “Dan saya membelai rambutmu karena tak ada orang lain yang mau.”

Payakumbuh, 2009

Sebuah Cerita yang Memberontak dengan Keadaan Ceritanya

|

Ia mengumpat-ngumpat, berteriak-teriak, “Pengarang sialan! Mengapa Dia menempatkan saya dengan setting cerita begini. Awas ya! Memangnya saya tidak bisa macam-macam?” Kursi-kursi beterbangan, perkakas berhamburan. Namun di depan komputer, seorang pengarang telah tidur sejak semalam.

Payakumbuh, 2009

Sayang Sekali Tubuh Seindah Itu Harus Mati

|

Saudara-saudara yang lagi berduka, sayang sekali jenazah yang akan kita makamkan ini harus mati. Saudara tahu, bukan, kalau almarhumah memiliki tubuh yang indah? Dan saya pikir Saudara juga mengalami seperti yang saya rasakan. Baik semasa hidup beliau ataupun sampai saat ini. Meski kita sudah ada yang punya, tidakkah Saudara pernah memendam secuil rasa pun terhadap almarhumah. Terus terang, Saudara, sampai detik ini saya tak dapat menyembunyikan cinta yang tak alang kepalang kepada beliau. Tapi beliau sudah mati, dan saya sangat menyesal tidak mengungkapkannya. Andai saja saya mengatakannya semasa hidup beliau, tentu saya tidak dihantui penyesalan segawat ini. Apa susahnya mengatakan cinta. “Saya mencintaimu,” habis perkara. Tak peduli beliau marah atau menyambut cinta saya. Toh jika beliau menanggapi cinta saya semua tak akan berjalan dengan semestinya. Saudara kan tahu kalau saya sudah berkeluarga dan saya tak kuat juga meninggalkan istri saya. Meski tubuh istri saya tak seindah tubuh beliau, tapi Saudara pernah patah hati olehnya karena telah menjadi pendamping saya, bukan?

Saudara-saudara yang sama-sama berduka dengan saya, sampai saat ini saya tak dapat membayangkan bagaimana rasanya menyentuh rambut beliau. Atau juga bagaimana eratnya pagutan dan panasnya bibir beliau. Apakah Saudara pernah memesan seporsi pizza? Dan saya pikir bibir beliau lebih kenyal dari itu.

Saudara-saudara yang lagi berduka, jika Saudara masih memendam cinta kepada almarhumah, ungkapkanlah sebelum acara pemakaman ini dilaksanakan. Di sini kita senasib sepenanggungan. Semoga dengan ungkapan yang tulus, beliau dapat meninggalkan dunia ini dengan kebahagiaan. Dan kita yang melepaskannya pun tidak dihantui lagi oleh penyesalan.

Payakumbuh, 2009

 

©2009 HALAMAN INDONESIA | Template Blue by TNB